Sejumlah Perusahaan Terkait Kasus Ekspor CPO yang Terima Insentif Biodiesel Rp18 T

Sejumlah Perusahaan Terkait Kasus Ekspor CPO yang Terima Insentif Biodiesel Rp18 T

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menggelontorkan Rp18,58 triliun insentif biodiesel bagi tiga perusahaan yang tengah tersangkut kasus ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) selama periode 2016-2020. Sambil asik baca berita, ayo dapatkan sensasi nya lewat permainan slot yang seru jikalau menang menjadikan itu keberuntungan.

Tiga perusahaan yang dimaksud merupakan PT Musim Mas, PT Wilmar Nabati, hingga PT Permata Hijau Palm Oleo.

Melansir data BPDPKS dan CNN, pada Rabu, 20 April 2022, penyaluran insentif terkait dengan biodiesel untuk Musim Mas diketahui sebesar Rp7,19 triliun sepanjang 2016-2020.

Melihat Tantangan Besar Industri Kelapa Sawit Indonesia

Rinciannya, Musim Mas menerima dana insentif biodiesel di mana senilai Rp1,78 triliun di tahun 2016, lalu Rp1,22 triliun di 2017, sebesar Rp550,3 miliar pada tahun 2018, sebesar Rp309,3 miliar untuk tahun 2019, dan Rp3,34 triliun di 2020.

Kemudian, BPDPKS diketahui menyalurkan dana insentif biodiesel yang sebesar Rp8,76 triliun sepanjang 2016-2020 bagi Wilmar Nabati Indonesia.

Detailnya, Wilmar sudah menerima insentif sebesar Rp2,24 triliun di tahun 2016, kemudian, Rp1,87 triliun pada tahun 2017, Rp824 miliar di tahun 2018, Rp288,9 miliar di 2019, hingga sebesar Rp3,54 triliun pada tahun 2020.

Selanjutnya, Permata Hijau Palm Olea sendiri diketahui telah mendapatkan dana insentif biodiesel sebesar Rp2,63 trilun di tahun 2017-2020. Pada 2017, perusahaan menerima sekiranya Rp392 triliun, kemudian Rp212,7 miliar di tahun 2018, Rp109,8 miliar di 2019, hingga Rp1,35 triliun di tahun 2020.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung memberikan informasi terkait dengan penetapan Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag yakni Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka dari kasus pemberian izin ekspor minyak sawit mentah.

Tatkala itu, Kejagung juga menetapkan dari tiga orang sebagai tersangka atas perusahaan swasta, yakni komisaris Wilmar Nabati Indonesia yaitu Master Parulian Tumanggor, Senior Manager Corporate Affairs Pelita Agung Agrindustri/Permata Hijau Group Stanley MA, hingga General Manager untuk Bagian General Affair Musim Mas yakni Picare Tagore Sitanggang.

Jaksa Agung ST Burhanuddin sendiri mengatakan bahwa penyidik telah menemukan indikasi adanya tindak pidana korupsi dalam pemberian persetujuan terkait dengan ekspor minyak goreng yang dalam beberapa waktu terakhir membuat masyarakat menjadi kesulitan.

Jaksa Agung menduga bahwa Indrasari telah menerbitkan izin ekspor terhadap para pengusaha meskipun mereka tidak berhak untuk mendapatkan izin tersebut. Sambil asik baca berita, ayo dapatkan sensasi nya lewat permainan slot yang seru jikalau menang menjadikan itu keberuntungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.