Motif Pelaku Penembakan di RS Oklahoma: Jengkel Terhadap Dokter Bedah

Motif Pelaku Penembakan di RS Oklahoma: Jengkel Terhadap Dokter Bedah

Polisi OklahomaAmerika Serikat, mengungkapkan terkait dengan motif pelaku penembakan yang berlangsung di rumah sakit kampus St Francis Hospital di Tulsa negara bagian Oklahoma, tepatnya Michael Louis, pada Kamis, 2 Juni 2022. Sambil asik baca berita, ayo dapatkan sensasi nya lewat permainan slot yang seru jikalau menang menjadikan itu keberuntungan.

Motif itu terungkap atas surat dari pelaku yang telah ditemukan oleh pihak kepolisian. Louis menuliskan surat bahwa ia jengkel dengan dokter bedah yang mengoperasi serta sudah menuduhnya menyebabkan sakit punggung.

Louis sendiri sempat dioperasi oleh dokter bedah bernama Preston Phillips di RS itu. Pasca operasi ia mengeluhkan rasa sakit di punggung dan pergi menuju ke klinik guna dapat memeriksa.

Pelaku Penembakan di Rumah Sakit Oklahoma Tewas Bunuh Diri - Global  Liputan6.com

“[Polisi menemukan] sebuah surat dari terduga pelaku yang menjelaskan bahwa dia datang dengan maksud membunuh dokter Philip dan siapa saja yang menghalangi jalannya,” ujar kepala polisi Tulsa, Wendell Franklin dalam konferensi pers melansir AFP.

“Dia [pelaku] menyalahkan dokter Philip atas apa yang terjadi usai dioperasi.”

Philips menjadi salah satu korban yang kala itu tewas dalam insiden penembakan itu. Korban lainnya yaitu dokter lain, resepsionis serta satu pasien.

“Mereka berdiri di jalan dan Lewis menembaknya, ” lanjut Franklin. Lewis lalu menembak diri sendiri.

Franklin juga sempat mengatakan bahwa, tersangka diketahui membeli senjata semi otomatis di toko senjata lokal sebelum dapat melancarkan aksinya di RS itu.

Penembakan di St Francis Hospital berlangsung pada Rabu, 1 Juni 2022. Imbas peristiwa ini setidaknya lima orang termasuk pelaku tewas. Sambil asik baca berita, ayo dapatkan sensasi nya lewat permainan slot yang seru jikalau menang menjadikan itu keberuntungan.

Penembakan di RS Kampus St Francis Tulsa AS, 5 Orang Termasuk Pelaku Tewas

Kekerasan senjata itu muncul tak lama pasca penembakan massal di sebuah sekolah dasar (SD) Ulvade di Texas sejak 24 April lalu terjadi. Akibat adanya serangan ini, total ada 21 orang yang dinyatakan tewas.

Menanggapi terkait adanya penembakan massal itu, Presiden Amerika Serikat yakni Joe Biden, mendorong senat agar dapat mereformasi terkait peraturan kepemilikan senjata di negara itu.

“Demi Tuhan, berapa banyak lagi pembantaian yang mau kita terima? Kita tidak bisa mengecewakan rakyat Amerika lagi,” kata Biden melansir Reuters.

“Setelah Columbine, setelah Sandy Hook, setelah Charleston, setelah Orlando, setelah Las Vegas, setelah Parkland, tidak ada yang dilakukan. Kali ini itu tak mungkin dibenarkan,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.